Akibat Kelangkaan, BBM di Merangin Capai Harga Rp 10 Ribu Perliter

Akibat Kelangkaan, BBM di Merangin Capai Harga Rp 10 Ribu Perliter
Ilustrasi

JAMBI~Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) terjadi di Kabupaten Merangin Jambi. Mobil plat merah pun ikut juga membeli BBM mahal. Saat ini masyarakat Merangin mulai terasa terhadap susahnya mendapat BBM di SPBU.

Kelangkaan BBM tersebut membuat harga jual pedagang kaki lima cukup tinggi mencapi Rp10 ribu perlitar, terutama di kawasan yang jauh dari pusat kota Bangko, seperti kawasan Kecamatan Tabir.

Pembelian minyak di pedagang kaki lima bukan hanya dari kalangan masarakat awam, bahkan mobil berpelat merah juga ikut serta membeli minyak di pedagang kaki lima dengan harga yang mahal, sementara itu akibat kelangkaan BBM para pedagang kaki lima yang menikmati hasil penjualan yang cukup tinggi.

Untuk mendapatkan minyak di SPBU perlu mengikuti antrian berjam-jam, bahkan ada juga yang mengikuti antian BBM di SPBU membawa nasi dari rumah, untuk persiapan apa bila antriannya cukup lama, itu pun kalau nasib bagus bisa mendapat BBM.

“Kadang-kadang pas giliran BBM tersebut sudah habis, terpaksa menunggu kedatangan mobil tengki membawa BBM, paling tidak menginap di SPBU,”ujar Dede (25) salah seorang warga disana kepada Rajawali News, Jumat (5/8).

Ungkapan yang sama seperti yang diutarakan Sutiono (40) salah satu warga desa Bungo Tanjung Kecamatan Tabir Selatan. ”Harga BBM di desanya sangat tingi mencapai Rp10 ribu perliter, harga seperti ini sangat memberatkan bagi warga, tetapi kalau BBM tersebut tidak dibeli masyarakat sangat membutuhkannya. Kaluapun mau ke Bangko mendapat BBM di SPBU sangat susah.

Hal senada diungkapkan Adi Kumala warga Rantau Panjang Kecamatan Tabir Induk. Adi juga merasa sangat susah mendapat BBM yang berupa premium, karena kalaupun ada harganya cukup mahal di pedagang kaki lima kawasan jalan lintas Sumatra di Kabupaten Merangin.

Kelangkaan BBM berupa premium tambah Adi kumala, membuat masyarakat sangat kecewa dengan pemerintah yang tak mampu memenuhi kebutuhan BBM bersubsidi yang berupa premium.

Disamping itu ungkap Adi Kumala sebisanya pemerintah harus bisa menertibkan pedagang BBM yang selama ini sangat bebas untuk berjualan, disamping itu bagi pedagang BBM harus memiliki izin dari pemerintah supaya tidak terjadi penjualan BBM yang cukup tinggi seperti yang dirasakan masyarakat saat ini.

Sementara itu salah satu penjual BBM di jalan yang namanya tidak mau di sebut di media ini mengatakan, akibat mahalnya penjualan BBM saat ini dikarenakan untuk mendapatnya sangat susah. Disamping itu BBM yang dijual mahal pada umumnya berasal dari luar SPBU Kabupaten Merangin.

“Tetapi walaupun harganya mencapai Rp10 ribu perliter, minyak jualan kami juga laris,”ujar warga tersebut.

Keluhan susahnya mendapatkan BBM juga dirasakan Azwarlis (35) selaku tukang ojek. Menurutnya, semenjak BBM mahal dirinya jarang bekerja dikarenakan hasil yang didapat tidak sesuai dengan pengeluaran untuk membeli BBM.

Sementara itu tambah Azwarlis ongkos ojek tidak bisa dinaikan,kalupun dinaikan para penumpang juga tidak mau bayar.

Sementara itu pekerjaan yang bisa dilakukannya hanya mengojek, untuk membiayai kehidupan rumah tangga dan biaya anak-anak sekolah, “Kalau hal seperti ini lama terjadi bisa-bisa anak mereka yang masih sekolah bisa terancam putus sekolah,”ujarnya.

“Melalui media ini saya meminta kepada pemerintah supaya menstabilkan BBM agar kami masyarakat kecil mudah mendapatkannya dan mampu membeli, kalau orang-orang kaya berapapun harga BBM tetap mampu membelinya,”tutur Azwarlis.

Sekali lagi tegas Azwarlis tolong pikirkan mereka masyarakat yang kelas bawah yang masih sangat butuh BBM bersubsidi seperti sedia kala. (DEDE)

Dibaca 787 kali