Bentrok Madura, 2 Orang Tewas Belasan Luka

Bentrok Madura, 2 Orang Tewas Belasan Luka
Bentrok dan Pembakaran Rumah di Madura

MADURA~Bentrokan kembali terjadi lagi di Madura, Minggu (26/8/2012). Dilaporkan, 2 orang tewas, belasan lainnya luka parah dan ringan serta belasan rumah hangus terbakar atas penyerangan terhadap komunitas Syiah di Sampang, Madura tersebut.

Para korban salah satunya bernama Hamama dan Tohir, dan lima orang luka-luka yang saat kejadian mencoba melindungi anak-anak dan wanita, merasa sangat ketakutan sekali.

“Dua orang meninggal, mereka bernama Hamama dan Tohir, lima orang luka-luka saat mencoba melindungi anak-anak dan wanita, saya ketakutan sekali,” ujar Umi Kulsum, istri dari ustad Tajul Muluk, pemimpin Syiah Sampang.

Umi mengatakan, kejadian berasal saat pagi hari sebanyak 30 anak-anak, termasuk lima orang putra-putri Umi dan Tajul, dan lima kemenakannya, akan berangkat ke Pesantren Bangil di Malang dari Desa Nangkerenang Kecamatan Omben Sampang, Madura.

Tiba-tiba ribuan orang menghadang mobil yang membawa mereka dan mendesak mereka untuk tidak pergi.

“Saat kejadian tidak ada polisi, massa menyerang pria dewasa yang mencoba melindungi anak-anak dan wanita dengan pedang, golok dan lain-lainnya,” ujar Umi.

Sampai saat ini, menurutnya, hanya ada delapan polisi dari Kepolisian Sampang yang berada di lokasi. Jenazah korbanpun belum dimakamkan.

Sebanyak empat rumah, termasuk rumah milik Umi dan Tajul sudah dibakar massa yang marah.

“Mungkin sekarang sudah lebih dari empat rumah, api sudah bergerak ke timur, tolonglah kami, suasana sangat mencekam,” kata Umi.

Dalam kerusuhan tersebut, Umi terpisah dari anak-anaknya dan sampai saat ini ia tidak mengetahui keberadaan mereka.

Umi mengatakan, ia mendengar kabar rencana penyerangan tersebut beberapa hari yang lalu dan sudah dilaporkan ke pihak Kepolisian, namun tidak ada tindakan nyata untuk mencegah insiden tersebut.

Umi mengatakan ia mengenali beberapa dari penyerang tersebut sebagai rekan dari Roisul Hukama, tokoh Nahdlatul Ulama di Dusun Nangkernang, Kecamatan Omben, Sampang, sekaligus adik kandung Tajul Muluk, yang melaporkan kakaknya, ke Kepolisian Daerah Jawa Timur, atas dasar penistaan agama.

“Mau berapa nyawa lagi yang harus jadi korban sampai polisi dan pemerintah mau turun tangan? Anak-anak kami sudah lima bulan putus sekolah, suami saya dipenjara, saya hidup dalam teror,” Umi berkata dengan penuh emosi.

Umi berharap Polisi Sampang tidak memihak dan segera menindak paara penyerang dan menghukum mereka dengan adil.

-Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD merasa prihatin setelah mendengar kabar adanya korban tewas akibat bentrok yang terjadi di kampung halamannya Sampang, Madura oleh kelompok tak dikenal, Minggu 26 Agustus 2012. »Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Saya baru dengar itu sekarang,’ kata Mahfud usai Syawalan bersama Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAMHI) di Yogyakarta Minggu 26 Agustus 2012.

Pria kelahiran Sampang itu mengaku kaget mendengar kabar tersebut mengingat lebaran ini dirinya baru saja mudik ke Madura dan keadaan adem ayem. Saat lebaran, Mahfud mudik ke Pamekasan dan menjadi khatib di masjid Agung As-Syuhada, Pamekasan.

Atas kejadian itu, Mahfud berharap aparat penegak hukum berani bertindak tegas menangkap orang-orang yang bertanggung jawab atas insiden itu tanpa rasa gentar dan pandang bulu kelompok atau golongan. »Pengadilan langsung pada seseorang di suatu negara merdeka, apalagi sampai menghilangkan nyawa sangat memalukan. Karena itu, aparat tidak boleh gentar memproses siapapun yang bertanggung jawab,” katanya.

Mahfud menilai, aparat tidak boleh lamban menghadapi konflik sosial beruntun yang terjadi di Madura itu. »Harus cepat, jangan sampai menjalar. Ini modelnya balas membalas,” kata dia. Dalam bentrok itu tercatat dua orang tewas dan enam orang terluka. (TEMP)

Dibaca 213 kali